Skip to main content

Momen dan ritme

Saya sangat suka mengamati bagaimana sebuah pendulum bergerak. Dari titik tertinggi di sebelah kiri dengan kecepatan yang perlahan meningkat dia berayun melewati titik terendah hingga sampai di titik tertinggi di sebelah kanan, lalu berhenti sepersekian detik, kemudian sambil meningkatkan kecepatan, dia kembali berayun dari titik tertinggi di sebelah kanan kembali melewati titik terendah dimana dia mencapai kecepatan tertinggi hingga akhirnya tiba di titik tertinggi si sebelah kiri untuk kemudian berhenti sejenak sebelum kembali berayun, begitu seterusnya. 

Semua berjalan dengan ritme teratur dan kontinyu. Ada momen untuk berhenti dan berayun, ada momen untuk mempercepat ayunan ada momen untuk memperlambat ayunan. Sekali lagi saya bilang, semuanya berlangsung dengan ritme yang teratur dan berlangsung secara kontinyu.

Belakangan saya kehilangan momen-momen itu, keteraturan itu, ritme itu...

Comments

Popular posts from this blog

tes kepribadian

Jangan curang dengan mengintip terlebih dahulu jawabannya. Otak kita itu seperti parasut. Bekerja dengan baik jika dalam keadaan terbuka. Sangat menyenangkan untuk dilakukan, tapi Anda harus mengikuti instruksinya secara perlahan-lahan. Ucapkan keinginan Anda sebelum memulai tes! Perhatian !!!! Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pilihan hati Anda sendiri. Hanya terdapat 4 pertanyaan dan jika Anda mengintip semua sebelum Anda menyelesaikannya, Anda tidak akan mendapat jawaban yang jujur mengenai diri Anda. Arahkan ke bawah secara perlahan, jawablah semua tes secara berurutan dan jujur. Jangan mengintip pertanyaan nomor berikutnya jika belum menjawab jawaban yang di atasnya. Gunakan pensil dan kertas untuk menulis jawaban Anda! Anda akan memerlukannya pada saat ingin mengetahui jawaban yang jujur tentang Anda. Semua jawaban akan menceritakan banyak hal tentang Anda sendiri. Jangan takut, ini hanya tes personality Dalai Lama .... :)) PERSONALITY TEST : Ingat tulis jawab...

Menunggu Hujan Reda

Dua orang wanita yang duduk beberapa meter di depan saya tampak berdiskusi alot tentang meriahnya sebuah pesta, mereka membahas tentang teman mereka yang mabuk, tentang pakaian si A, pakaian si B, dan tidak lupa mereka juga membahas kisah kasih asmara yang mungkin terjadi di pesta itu, entah pesta apa, entah dimana, dan entah pestanya siapa. Di sudut yang lain, dua orang tukang ojek yang sedang berteduh menunggu hujan reda, tampak berbincang tentang hari raya, tentang kemana mudiknya, bagaimana mudiknya, tentang anak mereka yang belum beli baju baru. Ada juga dua orang asing yang kebetulan duduknya sebelah saya, yang satu menceritakan bagaimana dia menaklukan beberapa wanita lokal dengan uang yang dia punya, yang satu lagi begitu antusias mendengarkan, seperti anak Sekolah Dasar yang kagum ketika guru mereka menceritakan tentang Jendral Sudirman.. Hmmph... 

mariana renata